Sunday, December 8, 2019
Entertainment

Kata Pecinta Sastra, Ini 5 Novel Klasik yang Tiap Orang Seharusnya Baca

Desc: Bukan pembaca yang baik jika tak pernah membaca karya klasik ini

3.2Kviews

Satu kemampuan dasar paling umum yang dipunya yaitu keterampilan membaca. Ini bisa berarti membaca apapun, entah itu novel roman, buku tentang perjuangan pelaut, atau karya besar lain tentang masa depan. Semua pasti punya preferensi sendiri.

Apapun itu, membaca merupakan bentuk hiburan, menambah wawasan, memperluas pengetahuan, dan lainnya. Dari semua itu, ada beberapa novel klasik yang wajib dibaca semua orang. Orang dewasa bisa membaca 200-300 kata permenit. Jika tebalnya 300 halaman, butuh waktu hanya 33 jam.

Moby-Dick

Sebenarnya, karya besar ini punya reputasi yang sedikit membosankan dan menghadirkan sentimen negatif. Novel karangan Melville ini tak diterima dengan baik di kalangan pecinta sastra pada awalnya. Butuh beberapa dekade sebelum orang-orang menyadari betapa hebatnya karya ini.

Banyak siswa yang mengeluh tentang novel ini tiap kali mendapat tugas. Memang, novel ini bercerita tentang perburuan paus pada abad ke-19. Tapi, ada semacam ketidakjelasan dari gambaran yang disampaikan Melville, dari mulai lokasi dan kapan waktu tepatnya.

Beberapa kosakata yang jarang dipakai bisa ditemui luas di novel ini. Total, ada lebih dari 17.000 kata dari Moby-Dick, dan menjadikan novel terpadat yang pernah ditulis. Selain padat dan menantang, tapi begitu mengagumkan. Cukup sisihkan waktu 13-15 bulan ini untuk membacanya.

Pride and Prejudice

Karya ini dianggap sebagai model awal dari novel modern lain yang begitu inspiratif. Rangkaian plot dan karakterisasi yang ditampilkan pada novel ini tetap lebih baik daripada versi layar lebarnya. Untuk sebuah novel yang ditulis diawal abad 19, unsur modernitas sangat kentara.

Jane Austen mengejutkan banyak kalangan saat membuat novel ini. Pride and Prejudice tak cuma menyoroti tentang percintaan, kelas sosial, pernikahan, dan perilaku abad 19. Ada banyak gambaran masa lalu yang dideskripsikan dengan jelas lewat novel ini.

Baik seting, alur, konflik, semua dibangun dengan cara yang sempurna. Dengan kata lain, Pride and Prejudice merupakan karya klasik langka yang bisa dinikmati tanpa berpikir keras. Paling banyak, cuma butuh waktu 10 jam untuk membaca dan mengagumi novel klasik ini.

Ulysses

Begitu kuatnya efek yang muncul setelah membaca Ulysses, karya ini bisa mengilhami rasa takut pada pembacanya. Ulysses, karya James Joyce, termasuk karya besar di era novel post-modern. Dari banyak kajian, ini adalah karya sastra paling sulit yang pernah dibuat.

Membaca Ulysses seolah perlu keteguhan hati. Selain sulit dimengerti, novel ini masuk kategori berat. Beberapa menyebut kalau Ulysses merupakan bentuk sempurna dari segi penerapatan teknik sastra. Kata kiasan, permainan kata, dan lelucon tak jelas, banyak ditemui dalam karya ini.

Tapi itu juga sekaligus poin penting dari novel ini. Semua teka-teki dan gambaran tak sempurna novel ini justru membuat Ulysses 100% mengagumkan. Untuk menyelesaikan buku ini, butuh waktu 9 jam membaca. Dan tambahkan beberapa jam lagi untuk memikirkan dan meneliti.

To Kill a Mockingbird

Bisa jadi, inilah novel paling sederhana yang pernah ditulis tapi juga paling menipu. Novel ini seolah memberi kritik sosial karena perlakukan berbeda untuk warna kulit berbeda. Alur cerita berpusat pada pria kulit hitam yang dituduh memperkosa wanita kulit putih.

Harper Lee mencoba menyampaikan kritik sosial yang terjadi pada 1930-an lewat diksi yang tepat, permainan kata yang lembut, dan prosa yang jelas. Tapi dibalik keanggunan karya ini, tersimpan jelas kritik sosial dan ketidakadilan yang masih terjadi sampai kini.

Sangat jarang ada karya sastra klasik yang bertahan hingga beberapa dekade, dan To Kill a Mockingbird adalah salah satunya. Jika ingin tahu lebih tentang gagasan Harper Lee dalam menyajikan uraian kritik sosial ini, tak butuh banyak waktu untuk menyelesaikan satu novel ini.

The Big Sleep

Sangat jarang novel The Big Sleep dikaji dalam bentuk apapun. Karya Raymond Chandler ini lebih sering dianggap seperti cerita pendek, dan bahkan setelah satu abad karya ini masih belum mendapat tempat layak. Bahkan ada yang menyebut kalau The Big Sleep adalah karya sekali pakai.

Memang benar kalau karya ini punya teknik rumit dan bahkan seperti tak beraturan. Novel ini mengamil sudut pandang moden tapi memakai kata slang kuno, plot berbelit, terlalu banyak misteri, dan sejumlah kecanggungan lain seperti beberapa alur konflik yang tak terselesaikan.

Tapi untuk penggemar karya klasik, itu tak masalah, justru semua keanehan tersebut bisa menjadi keunikan sendiri. Cuma butuh beberapa jam saja untuk membaca isi novel ini, tapi siap-siap, tak semua misteri yang dihadirkan punya pemecahan masalah.

 

Source: www.thoughtco.com

Leave a Response