Sunday, December 8, 2019
Entertainment

Review:  Maze Runner: The Death Cure, Kisah Akhir Petualangan Runners

Menghadirkan kisah akhir dari film yang diangkat dari novel, Maze Runner: The Death Cure dirajut dengan baik dengan berbagai klimaks yang ditampilkan.

606views

Babak terakhir dari kisah Thomas bersama dengan “runners” telah mencapai klimaks dengan dirilisnya Maze Runner: The Death Cure. Sempat tertunda masa produksinya karena kecelakaan yang menimpa Dylan O’Brien, Maze Runner: The Death Cure menyajikan penutupan yang apik – well done Wes Ball & everyone involved on this movie.

Lari Sana Lari Sini

Cukup berbeda dengan 2 film sebelumnya yang menggambarkan Thomas dan teman-temannya berlari untuk melarikan diri, kini Thomas malah berlari balik ke Wicked untuk menyelamatkan Minho yang menjadi “properti” milik WCKD – singkatan dari Wicked. Dibuka dengan adegan Thomas dan teman-temannya berusaha menyelamatkan Minho yang dibawa menggunakan kereta menyajikan awalan yang bagus untuk memicu ketegangan para penontonnya. Kehati-hatian dalam menyusun rencana telah disiapkan sedemikian rupa oleh Thomas dan teman-temannya untuk menyelamatkan orang terdekat mereka.

Namun agak disayangkan adegan Crank – zombie versi Maze Runner, sangat minim untuk disaksikan. Pada Maze Runner: Scorch Trial dapat dikatakan bahwa Crank merupakan ikon yang membuat film keduanya menegangkan. Meski agak disayangkan tidak memiliki adegan yang banyak, namun Wes Ball dirasa sudah baik dalam menampilkan adegan yang cukup menyentuh ketika Newt berubah menjadi Crank dan berusaha untuk tidak melukai Thomas.

 

Memuncak

Berhubung ini merupakan film terakhir dari Maze Runner, tentunya fans memiliki ekspetasi tinggi terhadap novel karya James Dashner yang diangkat kelayar lebar. Sutradara Wes Ball merajut Maze Runner: The Death Cure dengan baik sehingga para penonton dibawa untuk merasakan sendiri bagaimana kacaunya situasi masa akhir manusia pada dunia Maze Runner.

Dimulai dari mewabahnya virus Flare yang dapat menjangkit manusia tanpa harus terinfeksi melalui gigitan hingga jatuh bangun Teresa yang menciptakan serum untuk menyembuhkan wabah mengerikan ini mewarnai kisah akhir film yang dibintangi oleh Dylan O’Brien.

Adegan aksi dari Thomas, Newt, Minho, Frypan dan Gally ditampilkan dengan apik pada film ketiga ini, meskipun tidak sebrutal film yang diangkat melalui novel serupa, namun pertarungan dan bagaimana mereka berusaha menyelamatkan sesame teman patut diacungi jempol. Hubungan persahabatan yang terjalin antara Thomas dan Newt menambah kuat puncak dari Maze Runner: The Death Cure.

The Real MVP

Mungkin yang menjadi MVP pada film ini menurut kamu adalah Thomas ataupun Newt atau bahkan Teresa, tidak salah memang karena itu adalah pandangan masing-masing. Namun untuk gelar MVP pada Maze Runner: The Death Cure patut diberikan kepada Brenda, kenapa? Aksi keren perempuan satu ini selalu menjadi penyelamat bagi Thomas dan teman-temannya – the power of woman! Rosa Salazar menampilkan karakter Brenda dengan baik sejak pertama muncul di Maze Runner, memiliki sisi ktangguh sekaligus lembut disaat yang bersamaan, Brenda menjadi karakter yang berpengaruh terhadap keberhasilan dari Thomas dan yang lainnya.

Dengan durasi 2 jam 22 menit, Maze Runner: The Death Cure berhasil menghipnotis saya dan penonton lainnya untuk menikmati film ini. Perjalanan persahabatan, cinta, dan politik dihadirkan dengan cukup bagus. Semua orang yang terlibat dalam proyek film ini menghasilkan karya yang baik untuk dinikmati para penikmat film, terutama di Tanah Air. Bagi kamu yang belum menonton film Maze Runner dari awal, ada baiknya untuk mengikuti film pertama dan keduanya terlebih dahulu agar dapat mengetahui alurnya. Konflik politik dari Maze Runner juga terbilang tidak serumit pada Hunger Games dan Divergent sehingga dapat diikuti dengan baik. Bagaimana menurut kamu akan film terakhir Maze Runner: The Death Cure?

By : Ricky Wirianto

Leave a Response